Rabu , 28 Juni 2017
Breaking News
Home / Menyelamatkan Generasi Ponsel
Menyelamatkan Generasi Ponsel

Menyelamatkan Generasi Ponsel

MENYELAMATKAN GENERASI PONSEL
Upaya Membendung Dekadensi Moral

Seorang putri yang bernama “X” 13th siswi SMPN Sidoarjo ketika berkunjung ke saudaranya di Tangerang, tiba-tiba menghilang. Tiga hari kemudian putri tersebut diketemukan di depan Hotel Istana Nelayan Jatiuwung Tangerang. Dia telah lari bersama dengan kenalannya melalui facebook, yang bernama “Y” 18 th, tentu dengan sarana HP yang mereka miliki. Yang menyesakkan dada ortunya selama tiga hari tersebut dia telah melakukan hubungan badan layaknya suami istri (Surya). Seorang guru marah-marah sambil menyita HP salah seorang murid, karena ketika proses pembelajaran berlangsung, ia asyik dengan HP-nya. Setelah HP tersebut diserahkan kepada guru BK, ternyata dalam HP itu penuh dengan adegan-adegan free sex (sumber langsung dari guru yang bersangkutan). Dua contoh kasus tersebut merupakan bagian kecil dari ribuan kasus, bahkan jutaan kasus serupa terhadap kerusakan moral anak-anak kita, murid-murid kita dengan sarana HP. Tidak dapat dibantah, bahwa HP juga ada nilai positif, sebagai sarana komunikasi, sarana pendidikan, sarana hiburan, sarana kontrol orang tua terhadap anak-anaknya. Namun apabila tidak imbang antara kecerdasan intlektual dengan kecerdasan spiritual anak-anak dalam memanfaatkan HP, maka HP akan menjadi ancaman serius terhadap masa depan anak-anak. Realita saat ini nampak bahwa HP merupakan bagian dari gaya hidup anak-anak, terasa kiamat manakala HP-nya ketinggalan, merasa rendah diri jika HP-nya bukan keluaran terbaru, sekalipun untuk mendapatkannya main paksa terhadap orang tua. Telinganya tidak pernah lepas dari HP, di atas kendaraan, duduk-duduk, tidur-tiduran, celakanya ketika pelajaran-pun tetap ber HP-ria. Pada hakekatnya perilaku anak-anak itu merupakan konpensasi dari hati mereka yang tidak tenang, dari hati yang gersang, hati mereka gelap jauh dari cahaya Illahi, mereka kehilangan arah, nafsu mendominasi akal sehatnya, akibatnya nilai positif HP berubah menjadi mala petaka. Bukankah kasus Rani ABG yang menjual ABG di Surabaya yang rata-rata masih duduk di bangku SMP itu, ternyata HP merupakan sarana paling efektif untuk berkomunikasi atau menerima order tanpa diketahui orang tua. (Jawa Pos) Namun di sisi lain ada pemandangan yang menyejukkan, di sekolah-sekolah maupun di kampus-kampus, para pelajar, para mahasiswa seusai mengikuti shalat jama’ah di musholah/masjid kampus mereka khusuk berdzikir, khusuk membaca Al-Quran. Mereka semua termasuk generasi yang memiliki HP, tetapi karena di dalam hatinya ada cahaya Illahi, mereka tahu diri untuk apa HP yang mereka miliki, justru mereka termasuk anak-anak yang pandai di kampusnya. Pertanyaannya, bagaimana dengan anak-anak kita ?, bagaimana murid-murid kita?, apakah mereka yang muslim juga hobi mengaji, tertib shalat lima waktu?. Karena jika mereka hobi mengaji dan tertib shalat lima waktu, maka secanggih apapun HP yang mereka miliki, orang tua tidak usah hawatir, para pendidik tidak usah hawatir, sebab dalam diri mereka ada benteng pertahanan yang kokoh secara otomatis, yang tidak mudah ditembus oleh perilaku yang menyesatkan. Dalam jiwa mereka ada energy spiritual, yang melahirkan perilaku terpuji, apakah sikap tidak mudah putus asa, tidak mudah terpengaruh, dan memiliki semangat juang yang tinggi untuk meraih kesuksesan. Semuanya ini kembali kepada kita semua, baik sebagai orang tua, sebagai pendidik, dan sebagai warga masyarakat yang peduli, untuk bersama-sama menyelamatkan generasi kita. Bagi kita yang muslim perhatikan firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 9:”Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus”. Begitu pula sabda Rasulullah Saw:”Hendaklah Anda suka membaca Al-Quran, sebab sesungguhnya Al-Quran itu adalah cahaya Illahi untuk Anda di bumi dan sebagai simpanan (pahala) untuk Anda di langit”. Ayat dan hadits tersebut dipertegas lagi dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ankabut ayat 45:”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari kita(Al-Quran) dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka untuk menyelamatkan siswa SMK Kesehatan Surabaya, setiap awal pelajaran setelah do’a seluruh siswa wajib mengumpulkan HP mereka yang dikoordinir ketua kelas masing-masing, kemudian HP tersebut diserahkan ke kantor wakasek kesiswaan. Ketika pulang sekolah baru HP tersebut diambil kembali oleh ketua kelasnya untuk diserahkan kembali ke masing-masing siswa. Sanksinya jika tidak mengumpulkan dan tertangkap maka HP tersebut akan ditahan di sekolah selama satu semester dan orang tua yang wajib mengambil. Disamping itu di SMK Kesehatan Surabaya juga ada pembinaan “KARAKTER RELIJI” setiap hari melalui kegiatan wajib shalat dhuhur dan shalat asyar berjama’ah, setelah shalat ada pembinaan hafalan surat-surat pendek. Harapan SMK Kesehatan Surabaya bagi siswa yang muslim setelah lulus SMK Kesehatan Surabaya hafal Juz Amma (Juz ke 30)

Surabaya, 16 Mei 2014
Kepala Sekolah SMK Kesehatan Surabaya
Ttd

M. Yasin Ruslan, SH.,M.Pd.

2 comments

  1. Penjajahan jaman sekarang bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan teknologi. Para generasi dan pemuda harapan bangsa dijadikan sasaran nya. Maka tidak sedikit mereka yang terbawa arus tanpa bisa mengendalikan diri terjebak pada pornografi dan kekerasan seksual

  2. Benar dan tepat sekali. Derasnya arus informasi dan teknologi memang sama sekali tidak bsa di bendung. diri pribadi kita lah yang harus menciptkan benteng untuk menahannya. Yaitu benteng iman dan akhlak. maka orang tua, guru dan semua elemen masyarakat terutama pemerintah sangat berperan dalam hal ini. terimakasih artikelnya ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>